Jumat, 26 Oktober 2012

Jusuf Ronodipuro, Penyebar Kabar Proklamasi


Di negara dengan luas wilayah sebesar Indonesia, tentu bukan perkara
mudah mengabarkan berita proklamasi ke seluruh penjuru Nusantara pada
tahun 1945. Hanya radio lah yang bisa menjangkau seluruh pelosok
negeri. Kala itu satu-satunya stasiun radio yang ada hanyalah Hoso
Kyoku, milik Dai Nippon. Lalu bagaimana kabar kemerdekaan kita bisa
disebarluaskan?
Adalah seorang pria muda bernama Jusuf Ronodipuro yang kala itu
bekerja di Hoso Kyoku Jakarta (Radio Militer Jepang di Jakarta) yang
mengumandangkan pesan penting tersebut. Ia menuturkan kisahnya.
Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jusuf muda yang bekerja sebagai
reporter di Hoso Kyoku datang seperti biasa ke kantornya di Jalan
Medan Merdeka Utara. Suasana pagi itu tampak lain, beberapa orang
Jepang yang bekerja di radio tersebut tampak bergerombol, mereka
berbisik-bisik dalam suasana yang muram, bahkan gadis-gadis Jepang
terlihat menangis.

Ternyata pada saat itu bom atom kedua sudah dijatuhkan di Nagasaki
dan Jepang menyerah kepada Sekutu. Kabar tentang menyerahnya Jepang
disampaikan oleh Mochtar Lubis yang juga bekerja di radio tersebut di
bagian monitoring. Mochtar adalah satu-satunya orang Indonesia yang
diizinkan mendengarkan siaran radio asing.
Merasa bahwa hal itu penting untuk disampaikan kepada teman-temannya
yang biasa berkumpul di Menteng Raya 31, berangkatlah Jusuf
mengendarai sepedanya untuk memberikan kabar kekalahan Jepang. Sampai
di sana, ternyata mereka sudah mendengar kabar yang sama dari Adam
Malik yang bekerja di kantor berita DOME.
Pada hari yang sama, Jusuf mendapat tugas untuk meliput kedatangan
Bung Karno dan Bung Hatta di bandara Kemayoran sepulang dari Saigon.
Beberapa utusan golongan muda di antaranya Sukarni, Chairul Saleh,
AM. Hanafi ikut menjemput dan mendesak Bung Karno dan Hatta agar
segera menyatakan kemerdekaan.
Usaha Sukarni dkk tersebut gagal. Menurut penuturan Jusuf, saat itu
Bung Karno hanya berkata, “Saudara-saudara tidak usah menunggu
umurnya jagung, karena jagung sebelum berkembang kita sudah akan
merdeka.” Tidak ada penjelasan lain dari Bung Karno.
Sepulang dari Kemayoran, Jusuf mendapat pesan dari Sukarni agar
merebut radio Hoso Kyoku karena akan ada pengumuman sangat penting.
Tetapi di pintu masuk kantor tampak tentara Kempetai berjaga-jaga dan
melarang orang masuk ke kantor. Karena Jusuf adalah karyawan, ia
diizinkan masuk. Jusuf lalu menyampaikan pesan Sukarni itu kepada
Bahtar Lubis yang sama-sama bekerja di bagian pengabaran (redaksi).
Diisolasi
Hari itu pimpinan Hoso Kyoku menyampaikan dua pengumuman kepada para
karyawan. Pertama, para karyawan yang sudah di kantor dilarang keluar
lagi dan yang di luar tidak diizinkan masuk. Kedua, siaran luar
negeri dihentikan (mungkin agar berita kekalahan Jepang tidak sampai
ke rakyat Indonesia).
Jadilah mereka semua diisolasi di kantor radio dan terpaksa bermalam
di sana. Esoknya, hari Kamis 16 Agustus 1945 tidak ada kejadian
berarti, siaran berjalan seperti biasa. Malam harinya ada sedikit
keributan di depan kantor, ternyata Sukarni datang bersama beberapa
orang Jepang tetapi dilarang masuk. Dari dalam mobil, Sukarni
berteriak, “Tunggu, akan ada pengumuman penting,” lalu ia pergi.
Di tempat lain, di sebuah rumah di Pegangsaan 56, tanggal 16 Agustus
dini hari, selepas sahur, Sukarni dkk datang ke rumah Bung Karno.
Mereka berusaha meyakinkan Bung Karno bahwa Jakarta tidak aman karena
Jakarta akan menjadi lautan api, sehingga mereka ingin mengamankan
Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.
Kedua pemimpin tersebut setuju dan berangkatlah mereka menggunakan
mobil ke Rengasdengklok. Hari itu tak hanya serdadu Jepang yang sibuk
mencari Bung Karno dan Bung Hatta, para anggota PPKI (Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia) juga mencari karena sedianya hari
itu dilakukan rapat.
Malam harinya kedua pemimpin tersebut kembali ke Jakarta dan langsung
melakukan rapat perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana
Tadashi Mayda di Jalan Imam Bonjol No.1 dengan dihadiri anggota PPKI
dan angkatan muda.
Kembali ke Jalan Medan Merdeka, hari Jumat 17 Agustus 1945, radio
Hoso Kyoku tetap melakukan siaran seperti biasa. Jusuf dkk tidak
mengetahui bahwa Indonesia telah menyatakan kemerdekaan karena
komunikasi dengan dunia luar memang terputus.
“Siang itu beberapa mahasiswa kedokteran berhasil masuk ke lobi
membawa kertas. Di tangga, pistol yang dibawa seorang mahasiswa
terjatuh dan diketahui tentara Kanpetai. Mereka lalu ditendang dan
diusir keluar,” Jusuf mengenang. Kemungkinan mahasiswa tersebut
membawa pengumuman proklamasi untuk disiarkan.
Sore hari, sekitar jam 17.30, ketika Jusuf sedang menyiapkan menu
berbuka puasa, masuk seorang teman dari kantor berita Dome (Jusuf
lupa namanya). Dengan pakaian kotor dan basah oleh keringat karena ia
meloncati tembok belakang kantor radio, ia menyampaikan secarik
kertas.
Secarik kertas bertuliskan tulisan tangan dari Adam Malik.
Tertulis : “Harap berita terlampir disiarkan.” Lampiran berita yang
dimaksud adalah naskah proklamasi yang sudah dibacakan pukul 10 pagi.
Jusuf lalu berembuk dengan Bahtar Lubis dan beberapa orang lain
tentang pesan penting tersebut. “Semua studio dan ruang kontrol
dijaga oleh Kempetai, bahkan saat itu semua naskah siaran harus
disensor dulu termasuk lagu-lagu. Lalu saya teringat studio siaran
luar negeri yang sejak tanggal 15 sudah ditutup,” ujar Jusuf.
Untunglah nasib baik berpihak kepada mereka, ternyata studio siaran
luar negeri tidak dijaga. Dengan berhati-hati mereka menyelinap masuk
ke dalam studio. Tepat pukul 7 malam, Jusuf siap di depan corong
radio untuk menyampaikan proklamasi kemerdekaan Indonesia ke seluruh
penjuru Nusantara dan dunia.
Untuk menghindari kecurigaan Kempetai, siaran tetap berjalan seperti
biasa, tetapi kabelnya tidak diteruskan ke pemancar. Karena
sesungguhnya yang disiarkan adalah proklamasi yang dibacakan Jusuf
dari studio siaran luar negeri. Selama 15 menit mereka melakukan
siaran gelap.
Setelah itu mereka membereskan semuanya seperti sedia kala,
menggulung kabel dan mematikan lampu ruang siaran, lalu kembali ke
ruang redaksi dan berlaku seolah tidak terjadi apa-apa.
Kepala Nyaris Dipenggal
Tiba-tiba, Brak !!… pintu ruang redaksi ditendang.
Dengan wajah merah padam karena murka masuklah tentara Kempetai.
Beberapa staf radio yang berada di ruangan tersebut lari kocar-kacir.
Merek lalu menyeret Bahtar dan Yusuf ke sebuah ruangan. Di sana
mereka menjadi bulan-bulanan kemarahan Kempetai, ditonjok dan
ditendangi. Rupanya tentara Jepang baru tersadar bahwa Jusuf dkk
berhasil lolos dari pengawasan dan melakukan siaran.
Tepat saat Kempetai hendak mengayunkan samurai ke leher dua orang
itu, datang pimpinan radio Hoso Kyoku, antara lain Tomobachi dan
Shimura. Mereka lalu berbicara dalam bahasa Jepang kepada para
tentara. Selamatlah Jusuf dan Bahtar dari malaikat maut.
Malam itu pula, diumumkan penutupan radio Hoso Kyoku, semua karyawan
diminta pulang. Sekitar pukul 10 malam, Jusuf mengendarai sepedanya
hendak pulang ke rumah kosnya di bilangan Salemba. Baru beberapa
meter dari kantor, ia hampir pingsan karena sakit, lapar dan emosi
yang terkuras.
Tak kuat melanjutkan perjalanan, ia lalu mampir di rumah temannya,
seorang pelukis, Basuki Abdullah di Gang Gambir Buntu. Di sana ia
dipinjami baju karena bajunya compang-camping penuh darah, makan dan
menumpang tidur.
Mendirikan Pemancar Radio
Paginya, Jusuf pamit pulang. Dalam perjalanan ia merasakan sakit yang
luar biasa di bagian kaki dan dada akibat diinjak sepatu lars tentara
(sampai kini tempurung kaki Yusuf bengkok sehingga ia agak pincang
saat berjalan).
Dari Gambir ia mengambil jalan melewati Diponegoro lalu memutuskan
untuk memeriksakan diri ke dokter Abdulrahman Saleh di belakang RSCM
(sekarang Jalan Kimia). Sambil diperiksa, Jusuf menceritakan kejadian
yang dialaminya semalam.
Oleh Abdulrahman Saleh yang kerap disapa dokter Karbol, ia disarankan
untuk membuat pemancar radio karena pemerintahan (yang baru berusia
satu hari itu) membutuhkan radio sebagai sarana komunikasi pada
rakyat.
Jusuf lalu mengontak seorang temannya yang bekerja di bagian gudang
untuk mencarikan bahan-bahan untuk pemancar. Setelah alat-alat
terkumpul, mulailah mereka merangkai pemancar radio. “Kami mengebor
tiang-tiang dengan bor untuk gigi,” ujarnya terkekeh.
Pekerjaan tiga hari tiga malam akhirnya selesai. Tapi timbul masalah
baru, di manakah akan diletakkan pemancar itu ? Dokter Karbol menolak
jika pemancar itu ditaruh di rumahnya karena khawatir oleh patroli
Jepang. Jadilah ruang laboratorium dokter Karbol di RSCM menjadi
studio darurat.
Untuk mencapai studio tersebut, mereka harus masuk dari belakang RSCM
melewati kamar mayat yang baunya luar biasa busuk. Jusuf mengenang,
sepulang siaran ia harus merendam bajunya selama dua hari agar baunya
hilang. Meski darurat, tapi dari studio itulah Presiden Soekarno
menyampaikan pidato-pidato untuk membangkitkan semangat kepada
rakyatnya.
Selepas kemerdekaan bangsa ini yang tahun ini akan menginjak usia 61
tahun, kisah perjuangan Jusuf memang sering terlupakan dalam cerita-
cerita sejarah revolusi, padahal berkat jasanya ia berhasil
menyampaikan kabar kemerdekaan sampai ke negara-negara tetangga.
Terima kasih banyak Pak Jusuf…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar